Sabtu, 10 Juni 2017

Komunikasi Lintas Budaya



           KOMUNIKASI BISNIS
“Komunikasi Lintas Budaya”


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKFJ_PhR6CyD1YwslmW3SNMUhAISOrnUweVFjM4AkbP73V35cPF_8_C609dUXy-6oCMXUBRz24lr6ABBaNR2CFJ4iBQIOeu7TMxrN60nkCyP_H_KC_NBNLswlACwbYmNgeE_EXaZs1Rho/s1600/logo-unm-kop.jpg
 







      Dosen :
  Dr. Kasnaeny K, S.E., M.Si.

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
KELAS : 7D

  WIWIEK KARTIKASARI M.                          14179247
  SRI WAHYUNI                                                   14179281
  FADILLAH NURUL IFFAH                            14179239 
  PRATIWI JOTAN                                               14179306
  AYU ARDHITYA WULANDARI                   14179283
  AHMAD FAUZI                                                   14179320
             
    SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN
NITRO MAKASSAR
2017
KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini pada mata kuliah Komunikasi Bisnis dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas tentang “Komunikasi Lintas Budaya”.

Dalam tiap Subbab dalam Makalah ini kami membahas materi informasi yang sesuai dengan materi yang diberikan. Makalah ini disajikan secara sistematis sehingga diharapkan dapat memudahkan mahasiswa untuk memahaminya. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu, kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik serta kritik yang dapat membangun kami untuk menjadi lebih baik. Kritik yang baik dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.



                                                                                               
Makassar, 17 Maret 2017


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... 2
DAFTAR ISI......................................................................................................................... 3
BAB I : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang..................................................................................................... 4
B.     Rumusan Masalah................................................................................................ 5
C.     Tujuan Penulisan.................................................................................................. 5
BAB II : PEMBAHASAN
A.    Pengertian Komunikasi Lintas Budaya............................................................... 6
B.     Pentingnya Komunikasi Bisnis Lintas Budaya.................................................... 8
C.     Memahami Budaya dan Perbedaannya............................................................... 9
D.    Berkomunikasi dengan Orang Berbudaya Asing................................................ 15
E.     Hambatan Komunikasi Lintas Budaya................................................................ 18
F.      Menghadapi Reaksi Etnosentris.......................................................................... 21

BAB III : PENUTUP
A.    Kesimpulan.......................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 25




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat, norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Dan setiap manusia sangat membutuhkan itu semua, karena manusia tidak dapat hidup secara individu, dalam kehidupannya pasti membutuhkan pertolongan dari orang lain. Dan untuk mewujudkan itu semua diperlukan komunikasi yang baik.
Dalam menjalin komunikasi yang baik tentu banyak hal yang harus diperhatikan, salah satunya yaitu perbedaan budaya. Namun, tidaklah asing bagi kita sebagai warga Negara Indonesia dengan adanya perbedaan budaya di kalangan masyarakat kita, karena mengingat begitu luasnya wilayah Indonesia hingga Indonesia disebut-sebut sebagai negara seribu pulau. Hal ini patutlah membuat kita sebagai warga Negara Indonesia menjadi bangga akan kekayaan kebudayaan kita. Akan tetapi pada Kenyataanya seringkali kita tidak bisa menerima atau merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan yang terjadi akibat interaksi tersebut, seperti kebiasaan yang berbeda dari seorang teman yang berbeda asal daerah atau cara-cara yang menjadi kebiasaan (bahasa, tradisi atau norma-norma) yang berlaku dari suatu daerah.
Selain itu, semakin semaraknya komunikasi lintas budaya tak lepas dari semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Disamping itu, juga semakin terbukanya kesempatan masuknya berbagai kegiatan bisnis dari satu negara ke negara lain, sehingga menjadikan komunikasi bisnis lintas budaya menjadi pokok bahasan yang semakin menarik. Bagaimana meningkatkan keterampilan komunikasi bisnis lintas budaya juga menjadi salah satu faktor penting yang perlu mendapat perhatian bagi para manajemen puncak suatu perusahaan.
Oleh karena itu, disini manfaatnya kita perlu belajar mengenai bagaimana cara berkomunikasi antar budaya yang berbeda. Tidak hanya dengan satu bangsa melainkan lintas bangsa, lintas bangsa disini yang dimaksud adalah kebudayaan dari luar negara Indonesia misalnya (Cina, Jepang, Inggris, Amerika, dan negara lainya). Maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai “Komunikasi Lintas Budaya”.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Komunikasi Lintas Budaya?
2.      Apa Pentingnya Komunikasi Bisnis Lintas Budaya?
3.      Bagaimana Cara Memahami Budaya dan Perbedaannya ?
4.      Bagaimana Berkomunikasi dengan Orang Berbudaya Asing ?
5.      Apa Hambatan Komunikasi Lintas Budaya?
6.      Bagaimana Menghadapi Reaksi Etnosentris?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk Mengetahui Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
2.      Untuk Mengetahui  Pentingnya Komunikasi Bisnis Lintas Budaya
3.      Untuk Mengetahui  Cara Memahami Budaya dan Perbedaannya
4.      Untuk Mengetahui  Cara Berkomunikasi dengan Orang Berbudaya Asing
5.      Untuk Mengetahui Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
6.      Untuk Mengetahui  Cara Menghadapi Reaksi Etnosentri





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk saling berbagi informasi di berbagai budaya dan kelompok sosial. Hal ini digunakan untuk menggambarkan berbagai proses komunikasi dan masalah-masalah yang secara alami muncul dalam suatu organisasi atau konteks sosial yang terdiri dari individu-individu dari berbagai agama, sosial, etnis, dan latar belakang pendidikan. Komunikasi lintas budaya  secara sinonim kadang kadang digunakan dengan komunikasi antar-budaya. Dalam hal ini berusaha untuk memahami bagaimana orang-orang dari negara dan tindakan budaya yang berbeda, berkomunikasi dan memahami dunia di sekitar mereka. Banyak orang di komunikasi bisnis lintas budaya yang berpendapat bahwa budaya menentukan bagaimana orang menyandi pesan, apa yang sedang mereka pilih untuk transmisi mereka, dan cara pesan ditafsirkan.
Bagi para pelaku bisnis, pemahaman yang baik terhadap budaya di suatu daerah, wilayah, atau negara menjadi sangat penting artinya bagi pencapaian tujuan organisasi bisnis. Secara sederhana, komunikasi bisnis lintas budaya adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis baik komunikasi verbal maupun non verbal dengan memperhatikan faktor-faktor budaya di suatu daerah, wilayah, atau negara. Pengertian lintas budaya dalam hal ini bukanlah semata-mata budaya asing (internasional), tetapi juga budaya yang tumbuh dan berkembang diberbagai daerah dalam wilayah suatu negara.
Apabila para pelaku bisnis akan melakukan ekspansi bisnisnya ke daerah lain atau ke negara lain, pemahaman budaya di suatu daerah atau negara tersebut menjadi sangat penting artinya, termasuk bagaimana memahami produk-produk musiman di suatu negara. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terjadi kesalahan fatal yang dapat mengakibatkan kegagalan bisnis.
Indonesia sebagai salah satu negara yang sangat kaya dengan aneka macam budaya merupakan salah satu contoh yang sangat berharga bagi para pelaku bisnis dalam menerapkan komunikasi bisnis lintas budaya. Sebagaimana diketahui, setiap daerah yang ada di Indonesia ini memiliki kekhasan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya, seperti bagaimana seseorang berkomunikasi dengan orang lain, bagaimana seseorang menghargai orang lain, bagaimana mereka memanfaatkan waktu yang ada, bagaimana mereka bekerja, bagaimana mereka meyakini atau mempercayai sesuatu yang sudah turun- temurun dari nenek moyang mereka, bagaiamana mereka berpakaian, dan bagaimana mereka memperlakukan suatu produk.
Apabila para pelaku bisnis akan melakukan ekspansi bisnisnya ke daerah lain atau ke negara lain, pemahaman budaya di suatu daerah atau negara tersebut menjadi sangat penting artinya, termasuk bagaimana memahami produk-produk musiman di suatu negara. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terjadi kesalahan fatal yang dapat mengakibatkan kegagalan bisnis. Sebagai contoh, seorang pelaku bisnis ingin memasaarkan produk baru ke negara lain pada saat musim salju. Produk apa saja yang sebaiknya dipasarkan pada musim seperti itu ? pemahaman yang baik terhadap bagaimana masyarakat suatu negara bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari mereka di musim-musim tertentu sangatlah diperlukan, apabila bagi para pelaku bisnis.
Pada umumnya, masyarakat di suatu negara yang memiliki musim salju akan mempersiapkan berbagai kebutuhan hidupnya sesuai dengan cuaca yang sangat dingin dengan suhu di bawah nol derajat. Pada saat musim salju tiba, mereka memerlukan berbagai macam produk yang sesuai dengan musimnya, misalnya produk jaket, sweater, alat penghangat ruangan, sepatu untuk salju, sarung tangan untuk salju, dan sejenisnya. Oleh karena produk-produk tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat, wajar apabila harganya pada saat musim salju relative mahal. Sebaliknya, harganya di luar musim salju cenderung murah karena dijual dengan harga diskon atau obral.




B.     Pentingnya Komunikasi Bisnis Lintas Budaya
Sudah saatnya para pengambil keputusan, khusunya manajemen puncak, mengantisipasi era perdagangan bebas dan globalisasi sejak dini. Era yang ditandai semakin meluasnya berbagai produk dan jasa termasuk tehnologi dan komunikasi ini, menyebabkan pertukaran informasi dari suatu Negara ke Negara lain semakin leluasa, sehingga seolah dunia ini tidak lagi terikat dengan sekat-sekat yang membatasi wilayah suatu Negara .
     Tanpa mengamati secara jeli, orang awam pun mengetahui bahwa sudah lama Indonesia memasuki era globalisasi. Contoh sederhanya adalah masuknya sejumlah produk dan jasa dari luar negeri yang dapat dikonsumsi oleh konsumen di tanah air, seperti makanan cepat saji, minuman ringan, mainan anak-anak, pakaian, perlengkapan komunikasi, computer personal, priduk elektronik (audio visual), dan pekerja asing dalam berbagai bidang keahliannya.
        Dalam menyikapi era perdagangan bebas dan globalisasi, perusahaan-perusahaan besar mencoba melaukan bisnis secara global. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di tanah air baik dibidang manufaktur, eksplorasi, maupun jasa, menggunakan beberapa konsultan asing untuk mengembangkan perusahaan mereka. Begitu pula sebaliknya, perusahaan-perusahaan besar di tanah air juga ada yang mengembangkan bisnisnya ke berbagai Negara.
        Dengan melihat perkembangan atau tren saat ini, komunikasi bisnis lintas budaya menjadi sangat penting artinya bagi terjalinnya harmonisasi bisnis di antara mereka. Bagaimanapun diperlukan suatu pemahaman bersama antara dua orang atau lebih dalam melakukan lintas budaya, baik melalui tulisan (termasuk komunikasi lewat internet) maupun lisan (bertatap muka langsung).
Semakin banyaknya pola kerjasama maupun kesepakatan ekonomi di berbagai kawasan dunia saat ini akan menjadikan komunoikasi bisnis lintas budaya sangat penting. Saat ini ada beberapa pola kerjasama ekonomi di berbagai kawasan dunia, seperti kawasan ASEAN (AFTA/ ASEAN Free Trade Area), kawasan Asia Pacific (APEC), kawasan Amerika Utara (NAFTA/North American Free Trade Area), kawasan Kanada (CFTA/ Canada Free Trade Area), kawasan Eropa Tengah (CEFTA/ Central European Free Trade Agreeman), kawasan Eropa (EFTA/ European Free Trade Area), dan kawasan Amerika Latin (LAFTA/ Latin American Free Trade Asociation).
            Operasi global akan meningkatkan kebutuhan untuk berkomunikasi dengan budaya asing. Baik berada di Negara sendiri maupun di Negara asing, tetap ada kemungkinan untuk berkomunikasi dengan seseorang dengan berbagai latar belakang budaya dan bahasa. Interaksi lintas budaya terjadi dalam komunikasi internal maupun eksternal perusahaan. Dalam komunikasi internal akan terjadi interaksi antarpekerja yang berasal dari berbagai bangsa dan suku bangsa. Sementara dalam komunikasi eksternal, perusahaan akan berhadapan dengan pelanggan, pemasok, investor, dan pesaing dari berbagai Negara. Untuk mempermudah komunikasi, pekerja tidak hanya dituntut mampu menggunakan bahasa yang berlaku secara internasional, tetapi juga meningkatkan pemahaman terhadap budaya asing.
Pendek kata dengan semakin terbukanya peluang perusaahaan multinasional masuk ke wilayah suatu Negara dan didorong dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, maka pada saat itulah kebutuhan akan komunikasi bisnis lintas budaya menjadi semakin penting artinya.

C.    Memahami Budaya Dan Perbedaan Budaya

Budaya adalah simbol, keyakinan, sikap, nilai, harapan, dan norma tingkah laku yang dimiliki bersama (Dewi, 2006 dalam Boove dan Thill 2003,68). Budaya juga diartikan sebagai konvensi-konvensi kebiasaan, sikap, dan perilaku sekelompok orang (Dewi, 2006 dalam Heart, 2004:125). Semua anggota suatu budaya memiliki asumsi serupa mengenai bagaimana seharusnya berpikir, bertingkah laku, dan berkomunikasi. Mereka cenderung bertindak dengan cara yang serupa sesuai dengan asumsi yang dianut.
Beberapa budaya terdiri atas beberapa kelompok budaya yang beragam dan berbeda. Kelompok budaya utama terdiri atas beberapa kelompok budaya yang cenderung homogen. Kelompok budaya yang cenderung homogen dalam yang ada dalam suatu budaya disebut subbudaya. Misalnya, budaya Indonesia terdiri atas berbagai subbudaya etnik Jawa, Sunda, Bali, Betawi, Batak, Dayak, Sasak, dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang tidak memenuhi kriteria sebagai subbudaya, tetapi memiliki ciri-ciri yang mencolok. Kelompok itu sering disebut subkelompok yang menyimpang. Misalnya, kaum homoseks, waria, pecandu obat bius, dan penganut sekte agama yang dilarang.
            Komunikasi lintas budaya terjadi dalam berbagai aspek situasi, yang berkisar dari interaksi antara orang-orang yang budayanya berbeda secara ekstrim hingga dalam interaksi antara orang-orang yang budayanya sama, tetapi subbudayanya atau subkelompok budayanya berbeda. Besarnya perbedaan antara budaya yang satu dengan budaya yang lain tergantung pada tingkat keunikan masing-masing. Komunikasi lintas budaya yang efektif bergantung pada pemahaman terhadap perbedaan budaya. Selain mempermudah hubungan bisnis, pemahaman terhadap perbedaan budaya sekaligus juga meningkatkan reputasi perusahaan.

1.      Mengenali Perbedaan Budaya
Perbedaan budaya muncul dalam nilai-nilai sosial, gagasan mengenai status, kebiasaan membuat keputusan, sikap terhadap waktu, penggunaan ruang, konteks budaya, bahasa tubuh, sopan santun, dan tingkah laku etis (Boove dan Thill, 2003:69).

a.       Nilai-nilai sosial
Pada umumnya, penduduk Amerika Serikat menjunjung tinggi kerja keras dan menyelesaikan tugas-tugas secara efisien. Penggunaan dua pekerja dengan metode kerja modern dianggap lebih baik daripada dengan menggunakan empat pekerja, tetapi dengan metode kerja tradisional. Sementara itu, di negara-negara yang angka penganggurannya tinggi, seperti India dan Pakistan, menciptakan pekerjaan lebih penting dibandingkan dengan bekerja secara efisien. Oleh karena itu, para eksekutif di negara tersebut lebih suka memperkerjakan empat orang dibandingkan dengan dua orang. Nilai-nilai sosial dapat memengaruhi tindakan seseorang.

b.      Peran dan Status
Di banyak negara, wanita belum memainkan peran yang memainkan peran dalam bisnis. Apabila ada eksekutif wanita yang berkunjung ke negara tersebut, bisa jadi itu disepelekan atau dianggap tidak seriius. Negara juga menentukan cara seseorang dalam menunjukkan rasa hormat kepada atasan. Misalnya, atasan disapa “Mr. Robert” atau “Mr. Black” di Amerika Serikat. Sedangkan, di Cina digunakan gelar jabatan untuk menyapa seseorang, misalnya “Direktur Ho” atau “Manajer Han”.
Konsep Status juga berbeda-beda. Misalnya, manajer puncak di Amerika Serikat memiliki ruang kerja khusus, karpet tebal, meja paling mahal, dan asesoris paling mewah. Namun di Perancis, manajer puncak bekerja di ruang terbuka dan di kelilingi dengan manajer menengah.

c.       Adat Pembuatan Keputusan
Di Amerika Serikat dan Kanada, pelaku bisnis berusaha mencapai keputusan secepat dan seefisien mungkin. Manajer puncak cukup memikirkan hal pokok saja, sedangkan rincian diserahkan kepada bawahan. Tidak demikian halnya di Yunani, mengabaikan rincian dianggap sikap menghindar dan tidak dapat dipercaya. Di Pakistan, pengambilan keputusan cukup dilakukan eksekutif tinggi. Di Cina dan Jepang, pengambilan keputusan dilakukan secara konsensus melalui proses yang rumit dan waktu yang panjang. Persetujuan harus lengkap dan tidak ada aturan mayoritas.

d.      Konsep Mengenai Waktu
Perbedaan konsep mengenai waktu dapat menimbulkan salah pengertian. Bagi  eksekutif Amerika Serikat dan Jerman, waktu menjadi penentu rencana agar bisa efisien dan fokus pada satu kegiatan pada periode tertentu. Pengaturan berbagai aktivitas dibatasi oleh waktu. Bagi ekskekutif di Asia, membangun fondasi hubungan bisnis jauh lebih penting daripada menepati batas waktu atau jadwal yang ketat. Waktu yang diperlukan untuk saling mengenal dan menjajagi latar belakang relasi bisnis cukup fleksibel.

e.       Konsep Ruang Pribadi
Ruang memiliki arti yang berbeda dalam budaya yang berbeda. Orang Kanada dan Amerika Serikat biasanya berdiri terpisah sekitar 5 kaki ketika berbicara mengenai bisnis. Jarak tersebut terlalu dekat bagi orang Jerman dan Jepang. Akan tetapi bagi orang Arab dan Amerika Latin, jarak tersebut tidak nyaman karena terlalu jauh. Akan terjadi dansa budaya bila orang Arab dan Jerman berbicara bisnis, dikatan demikian karena dimana orang Jerman selalu bergerak menjauh dan orang Arab selalu bergerak mendekat. Akibatnya, orang Jerman merasa tidak nyaman karena selalu didekati dan orang Arab merasa tersinggung karena selalu dijauhi.

f.       Konteks Budaya
Konteks budaya merupakan petunjuk fisik dan pemahaman implisit yang menyertai makna diantara mereka yang berkomunikasi. (Dewi, 2006 dalam Quible, 1996:409) membagi konteks budaya menjadi dua tingkat, yaitu :
o   Budaya konteks tinggi ( high context culture)
Budaya konteks  tinggi (misalnya Korea dan Taiwan) cenderung lebih memperhatikan petunjuk yang bersifat nonverbal (ekspresi muka, bahasa tubuh) daripada verbal. Bagi budaya konteks tinggi, jaminan dan kepercayaan pribadi lebih penting daripada kontrak dan pandangan terhadap hukum yang lebih fleksibel.
o   Budaya konteks rendah ( low context culture)
Budaya konteks rendah (misalnya, Amerika dan Eropa) lebih memperhatikan pesan yang diungkapkan secara verbal. Oleh karena itu, bagi budaya konteks rendah, persetujuan tertulis dianggap lebih mengikat karena memiliki dasar hukum yang kuat.

g.      Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh bisa dipergunakan untuk membantu menjelaskan pesan yang membingungkan. Namun, bahasa tubuh juga bisa menjadi penyebab adanya salah pengertian antarbudaya. Menguasai bahasa suatu budaya tidak berarti juga menguasai bahasa tubuhnya. Orang-orang dari budaya berbeda kadang-kadang salah membaca tanda yang dikirimkan oleh bahasa tubuh. Misalnya, untuk menyatakan ‘tidak’ orang Amerika Serikat dan Kanada akan menggeleng, orang Bulgaria mengangguk, orang Jepang mengangkat tangan kanan, dan orang Sisilia mengangkat dagunya.
Ucapan selamat datang disampaikan oleh orang Indonesia dengan cara bersalaman. Sementara suku Indian mengucapkan selamat datang dengan menjulurkan lidah. Bagi orang Amerika Serikat menjulurkan lidah dianggap suatu ejekan.

h.      Tingkah Laku Sosial dan Sopan Santun
Sesuatu yang dianggap sopan oleh suatu budaya mungkin dianggap kasar oleh budaya lain. Aturan mengenai tingkah laku sopan bervariasi antara suatu negara dengan negara yang lain. Memberi hadiah kepada istri orang lain dianggap tidak sopan oleh orang Arab. Menaikkan kaki ke atas meja dan memberikan sesuatu dengan tangan kiri dianggap biasa oleh orang Amerika Serikat, tetapi dianggap suatu penghinaan oleh orang Mesir. Di Spanyol, jabatan tangan berlangsung lima sampai tujuh kali ayunan. Sementara di Perancis orang lebih suka berjabat tangan dengan satu kali ayunan.

i.        Tingkah Laku Legal dan Etis
Di beberapa negara, perusahaan sering memberi bayaran ekstra kepada pejabat pemerintah untuk mendapat kontrak pemerintah. Hal itu sudah menjadi kebiasaan yang rutin dan tidak dianggap ilegal. Namun, di Amerika Serikat hal ini dianggap sebagai suap, ilegal, dan tidak etis. Perusahaan yang berdiri di Amerika Serikat dilarang membayar ekstra kepada pegawai negeri di mana pun.

j.        Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan adalah cara perusahaan melakukan sesuatu. Budaya membentuk perasaan orang mengenai perusahaan dan pekerjaan yang dilakukan, cara menginterpretasikan dan mengartikan tindakan yang dilakukan orang lain, harapan yang menyangkut perubahan dalam bisnis, dan bagaimana cara pandang terhadap perubahan tersebut. Lebih dari separuh kemitraan gagal karena adanya benturan budaya perusahaan.

2.      Menghadapi Hambatan Bahasa
Bahasa tidak diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain atas dasar kata-kata. Bahasa bersifat idiomatik, yang artinya disusun dengan ungkapan dan pengelompokkan kata yang dapat bertentangan dengan pola umum dari kerangka bahasa itu dan dapat memiliki arti yang jauh berbeda dari komponen individual apabila diterjemahkan secara harfiah (Dewi, 2006 dalam Boove dan Thill 2003:76). Misalnya, slogan pepsi yang berbunyi “come alive with Pepsi”  (hidup ceria dengan pepsi) diterjemahkan oleh orang Jerman dengan “come out of the grave” (keluar dari kuburan) dan oleh orang Thailand sebagai “bring your ancestor back from the dead”  (membangkitkan kembali nenek moyang).
Jika seseorang dari Inggris berbicara dengan rekan bisnisnya dari Indonesia dengan Bahasa Inggris, mungkin akan terjadi kesulitan karena perbedaan pengucapan dan aksen. Sekelompok karyawan Toyota Jepang yang dipindahkan ke AS mengikuti kelas khusus untuk belajar mengatakan “jet yet?” yang berarti “did you eat yet?”  dan “cannahepya”  yang berarti ”can i help you?”.  Perbedaan dalam lafal, perubahan vokal, dan kosakata dapat menimbulkan masalah dalam komunikasi lintas budaya.
Apabila berhubungan dengan orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa kita, ada tiga pilihan yang dapat dilakukan, yaitu mempelajari bahasa orang itu, menggunakan perantara atau penerjemah, atau mengajarkan mereka bahasa kita. Jika memiliki hubungan bisnis jangka panjang dengan orang dari budaya lain, mempelajari bahasa dan budaya mereka akan lebih bermanfaat.

D.    Komunikasi dengan Orang Berbudaya Asing

1.      Belajar tentang budaya
Ketika merencanakan untuk melakukan bisnis dengan orang yang memiliki budaya yang berbeda , seseorang akan dapat berkomunikasi secara efektif bila ia telah mempelajari budaya nya. Disamping itu, ketika tinggal di Negara lain alangkah baiknya orang tersebut juga sedikit banyak mengenal budaya adat istiadat yang belaku di Negara tersebut. Bahasa asing tentunya tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat.
            Berikut adalah contoh komunikasi lintas budaya ketika melakukan perjalana ke suatu Negara:
a.    Di Spanyol orang berjabat tangan lama antara lima sampai tujuh ayunan; melepas jabat tangan segera dapat diartikan sebagai suatu bentuk penolakan. Di Pracis, orang berjabat tangan cukup dengan hanya sekali ayunan.
b.      Jangan memberi hadiah minuman beralkohol di Negara-negara Arab.
c.       Di Pakistan atau Negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, jangan heran kalau ditengah-tengah suatu perttemuan bisnis mereka meminta ijin keluar untuk menunaikan ibadah sholat karena setiap muslim wajib sholat 5 kali sehari.
d.      Anda dianggap menghina tuan rumah jika anda menolak tawaran makanan, minuman atau setiap bentuk kebaikan di Negara Arab. Namun, anda juga jangan cepat-ceoat menerima segala bentuk tawaran bentuk tersebut. Kalau mau nenolak suatu tawaran tolaklah dengan cara-cara yang sopan.
e.       Tekankan usia perusahaan anda ketika berhubungan bisnis dengan Jerman, Belanda dan Swiss.
Untuk memberikan gambaran yang lebih luas ketika seseorang melakukan perjalanan bisnis di Negara lain, berikut ini kami sajikan sejumlah tips berguna.
Adat istiadat Masyarakat
·         Bagaimana Reaksi terhadap orang asing? Bersahabat atau mewaspadai?
·         Apa kata-kata atau gerak isyarat (gesture) untuk menyambut seseorang?
·         Bagaimana caranya ketika seseorang yang akan masuk atau keluar rumah? Membungkuk, mengangguk atau berjabat tangan?
Konsep Waktu
·         Bagaimana mengekspresikan waktu?
·         Bagaimana jam kerja yang dapat diterima secara umum?
·         Bagaimana pelaku bisnis memandang janji yang terjadwal?
Pakaian dan Makanan
·         Apakah suatu kegiatan memerlukan pakaian khusus? Apakah warna pakaiannya/
·         Apakah pakaian tertentu tabu bagi seseorang pria atau wanita?
·         Jenis makanan dan minuman apa yang cocok untuk suatu pertemuan bisnis?
Politik
·         Bagaimana stabilitas politik? Bagaimana pengaruhnya terhadap dunia bisnis?
·         Bagaimana kekuatan politik dimanifestasikan? Kekuatan militer? Kekuatan ekonomi?
·         Dalam suasana bisnis, apakah layak berbicara soal politik?
Perbedaan satuan kerja
·         Apakah masyarakat homogen?
·         Apakah ada kelompok minoritas?
·         Apa bahasa yang digunakan?
Agama dan Kepercayaan
·         Bagaiman keyakinan agamanya mampu mempengaruhi kegiatan sehari_hari?
·         Apakah ada toleransi dengan kelompok minoritas?
·         Apakah ada larangan agama untuk makan atau minum sesuatu pada waktu tertentu?
Lembaga Ekonomi dan Bisnis
·         Apa sumberdaya dan produk utama?
·         Apakah layak berbisnis lewat telephone atau faxi mail?
·         Bagaimana tingkat senioritas dalam organisasi bisnis?
Etika, Nilai, Dan Hukum
·         Apakah pemberian hadiah itu etis dan legal?
·         Etika bisnis seperti yang dapat empengaruhi transaksi bisnis?
·         Masalah hukum seperti apa yang dapat mempengaruhi transaksi bisnis?

2.      Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Lintas Budaya
Mempelajari apa yang dilakukan oleh seseorang tentang budaya tertentu sebenarnya merupakan suatu cara yang baik untuk menemukan bagaimana mengirim dan menerima pesan lintas buadaya secara efektif. Namun, perlu diingat dua hal penting, yaitu pertama, jangan terlalu yakin bahwa seseorang akan dapat memahami budaya orang lain secara utuh atau sempurna. Kedua, jangan mudah terbawa pada pola generalisasi terhadap perilaku seseorang dari budaya yang berbeda.
Berikut ini adalah beberapa petunjuk atau tips yang diperlukan seseorang ketika berhubungan dengan orang lain yang memiliki budaya berbeda.
a)      Asumsikan berbeda sehingga suatu persamaan telah terbukti.
b)      Berani mengambil tanggung jawab saat berkomunikasi.
c)      Tidak memberi pendapat.
d)     Tunjukkan suatu penghargaan.
e)      Empati
f)       Menanam sikap ambiguitas atau mendua.
g)      Jangan melihat sesuatu yang supervisial.
h)      Sabar dan tekun.
i)        Mengenal bias budaya anda sendiri.
j)        Fleksibel/lues.
k)      Tekankan hal-hal yang biasa.
l)        Mengirim pesan yang jelas.
m)    Tingkatkan kepekaan budaya Anda.
n)      Bersifat individual.
o)      Belajar secara langsung.
p)      Memperlakukan tafsiran anda sebagai hipotesis kerja. 

E.     Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Hambatan komunikasi atau yang juga dikenal sebagai communication barrier adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Contoh dari hambatan komunikasi antabudaya adalah kasus anggukan kepala, dimana di Amerika Serikat anggukan kepala mempunyai arti bahwa orang tersebut mengerti sedangkan di Jepang anggukan kepala tidak berarti seseorang setuju melainkan hanya berarti bahwa orang tersebut mendengarkan. Dengan memahami mengenai komunikasi antar budaya maka hambatan komunikasi (communication barrier) semacam ini dapat kita lalui.

1.      Jenis-Jenis Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya. Hambatan komunikasi semacam ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak yang berbentuk fisik.
Hambatan-hambatan tersebut adalah:
ü  Fisik (Physical)
Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.
ü  Budaya (Cultural)
Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.
ü  Persepsi (Perceptual)
Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.
ü  Motivasi (Motivational)
Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.
ü  Pengalaman (Experiantial)
Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.

ü  Emosi (Emotional)
Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
ü  Bahasa (Linguistic)
Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.
ü  Nonverbal
Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan (receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan.
ü  Kompetisi (Competition)
Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua) kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal.

2.      Cara Menghadapi Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Seseorang dapat dikatakan sukses sebagai manager bisnis internasional budaya, apabila ia mempunyai kemampuan untuk merefleksikan seberapa besar kesungguhannya dalam aspek di bawah ini :
1)      Social Competence : Kemampuan untuk membuat jaringan sosial, pandai bergaul dan banyak temannya
2)      Openness to other ways of thinking : keterbukaan untuk menerima pikiran yang berbeda dari dirinya
3)      Cultural Adaptation : Kemampuan seseorang menerima budaya baru
4)      Professional Excellence : Mempunyai kemampuan yang handal dalam bidang tertentu
5)      Language Skill : Kemampuan mempelajari bahasa asing dengan tepat
6)      Flexibility : Kemampuan dalam penyesuaian diri sesuai dengan tuntutan keadaan
7)      Ability to work in team : kemampuan dalam mengelola dan bekerjasama dalam satu tim
8)      Self Reliance or independence : percaya diri dan mandiri
9)      Mobility : Lincah dan wawasannya luas
10)  Ability to deal with stress : mempunyai kemampuan untuk mengatasi stress
11)  Adaptability of the family : keluarganya pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan baru
12)  Patience : Ulet dan sabar
13)  Sensivity : Peka terhadap sesuatu yang baru

F.     Menghadapi Reaksi Etnosentris

Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk menilai semua kelompok lain menurut standar, tingkah laku, dan tradisi kelomppok sendiri serta memandang kelompok lain lebih rendah (Dewi, 2006 dalam Boove dan Thill 2003:78) . Untuk menghindari reaksi etnosentris, dapat dipergunakan beberapa cara berikut (Dewi, 2006 dalam Haryani, 2001:69) :

1.      Menerapkan asas kesamaan
Tidak ada budaya inferior dan tidak ada budaya superior. Selain itu, tidak ada budaya yang salah dan tidak ada budaya yang paling benar. Pelaku komunikasi harus menghargai budaya dari pihak lain dan menerapkan budaya sendiri untuk kelompok sendiri.



2.      Menerapkan kaidah emas
Kaidah emas adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Cara itu relatif mudah dilakukan karena tidak perlu dilakukan pemahaman terhdap nilai-nilai yang dianut orang lain.
3.      Menerapkan kaidah timah
Kaidah timah adalah memperlakukan orang lain sebagaimana mereka memperlakukan diri mereka sendiri. Caara itu relatif lebih sulit dari kaidah emas karena harus memahami nilai-nilai yang dianut oleh orang lain.

























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Komunikasi lintas budaya merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk saling berbagi informasi di berbagai budaya dan kelompok sosial. Pentingnya komunikasi bisnis lintas budaya yaitu, dengan semakin terbukanya peluang perusaahaan multinasional masuk ke wilayah suatu Negara dan didorong dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, maka pada saat itulah kebutuhan akan komunikasi bisnis lintas budaya menjadi semakin penting artinya.
Budaya adalah simbol, keyakinan, sikap, nilai, harapan, dan norma tingkah laku yang dimiliki bersama (Dewi, 2006 dalam Boove dan Thill 2003,68).
Beberapa budaya terdiri atas beberapa kelompok budaya yang beragam dan berbeda. Kelompok budaya utama terdiri atas beberapa kelompok budaya yang cenderung homogen. Kelompok budaya yang cenderung homogen dalam yang ada dalam suatu budaya disebut subbudaya.
Perbedaan budaya muncul dalam nilai-nilai sosial, gagasan mengenai status, kebiasaan membuat keputusan, sikap terhadap waktu, penggunaan ruang, konteks budaya, bahasa tubuh, sopan santun, dan tingkah laku etis.
Ketika merencanakan untuk melakukan bisnis dengan orang yang memiliki budaya yang berbeda , seseorang akan dapat berkomunikasi secara efektif bila ia telah mempelajari budaya nya. Disamping itu, ketika tinggal di Negara lain alangkah baiknya orang tersebut juga sedikit banyak mengenal budaya adat istiadat yang belaku di Negara tersebut.
Terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya.
Hambatan-hambatan tersebut adalah: Fisik (Physical), Budaya (Cultural), Persepsi (Perceptual), Motivasi (Motivational), Pengalaman (Experiantial), Emosi (Emotional), Bahasa (Linguistic), Nonverbal, Kompetisi (Competition).
Cara Menghadapi Hambatan Komunikasi Lintas Budaya :
-          Social Competence
-          Openness to other ways of thinking
-          Cultural Adaptation
-          Professional Excellence
-          Language Skill
-          Flexibility
-          Ability to work in team
-          Self Reliance or independence
-          Mobility
-          Ability to deal with stress
-          Adaptability of the family
-          Patience
-          Sensivity
Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk menilai semua kelompok lain menurut standar, tingkah laku, dan tradisi kelomppok sendiri serta memandang kelompok lain lebih rendah (Dewi, 2006 dalam Boove dan Thill 2003:78) . Untuk menghindari reaksi etnosentris, dapat dipergunakan cara menerapkan asas kesamaan, menerapkan kaidah emas, dan menerapkan kaidah timah.







DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sutrisna. 2006. Komunikasi Bisnis. Edisi Pertama. Penerbit: Andi. Yogyakarta
Purwanto, Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis. Edisi Ketiga. Penerbit: Erlangga. Jakarta
Xerxen, Max. 2014. Komunikasi Lintas Budaya. Diakses 17 Maret 2017

Setiawan, Hendra. 2014. Komunikasi Lintas Budaya. Diakses 17 Maret 2017

Yudi Marpaung, Indra. 2016. Komunikasi Bisnis Lintas Budaya. Diakses 17 Maret 2017
http://deafebb.blogspot.co.id/2015/04/makalah-komunikasi-lintas-budaya.html

Wikipedia. 2017. Komunikasi lintas budaya. Diakses 17 Maret 2017

Ahmad, Farid. _. Makalah Komunikasi Lintas Budaya. Diakses 17 Maret 2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar